Saturday, 16 December, 2017 | KUMPULAN KISAH ORANG SUKSES & TIPS SUKSES |

Kisah Tukang Kayu dan Rumah Masa Tuanya


Kisah  Tukang  Kayu  dan  Rumah  Masa  TuanyaDi  suatu  daerah  terdapat  sebuah  kantor  yang  menawarkan  jasa  untuk membuat  rumah  dan  segala  isinya,  juga  berbagai  tipe  bangunan  lainnya. Perusahaan  itu  semakin  maju,  disebabkan  kinerja  dari  karyawannya  yang profesional  dan  bertanggung  jawab  dalam  menjalankan  tugas  sesuai dengan pesanan customer.

suatu  ketika  terjadi  sebuah  kejadian  yang membuat  perusahaan  tersebut  menjadi ramai disebabkan pegawainya hendak  pensiun. Permasalahannya  bukan  karena  ia saudara atau kerabat sang bos. melainkan  ia  adalah  salah  satu  pegawai  terbaik  perusahaan  tersebut  yang telah  puluhan  tahun  mengabdikan  dirinya  untuk  perusahaan.  Sang  bos perusahaan  tampak  tidak  rela  kehilangan  pegawainya  tersebut,  akan  tetapi  setelah  ditanya  ternyata  ia  mampu  memberi  jawaban  yang  rasional sehingga  sang  bos  dengan  terpaksa  harus  merelakannya.

Latar belakang dari penyebab mengundurkan dirinya sang karyawandi picu  oleh  keinginan  dirinya  untuk  menikmati  masa  tuanya  dengan  terbebas dari  pekerjaannya  yang  melelahkan,  meskipun  ia  sadar  bahwa  dengan  berhenti  bekerja,  berarti  telah  menghilangkan  sumber  penghasilannya  untuk dapat  hidup. Disebabkan  rasa  penghormatan  yang  luar  biasa  dari  sang  bos  kepada pegawai  tersebut,  maka  sang  bos  meminta  satu  hal  yaitu  dengan  memintanya  untuk  membuat  satu  rumah  untuk  dirinya.

Tukang  kayu  tersebut  mengangguk  menyetujui  permohonan  pribadi  pemilik  perusahaan  itu.  Akan tetapi  dalam  hatinya  ia  sangat  merasa  terpaksa  dan  telah  merasa  berat untuk  menjalaninya,  akan  tetapi  disebabkan  ketidakenakan  terhadap sang  bos,  ia  pun  terpaksa  menyetujuinya.  Disebabkan  perasaannya  yang memang  tidak  bergairah  lagi,  membuat  dirinya  mengerjakan  permintaan sang  bos  tidak  maksimal  yaitu  dalam  membangun  rumah,  bahkan  hasil  pekerjaannya  masuk  kategori  tidak  memuaskan,  jauh  dari  kerjaannya  dahulu. Sang  tukang  mengerjakan  dengan  seenaknya  sendiri  dengan  perasaan  ogah-ogahan  dalam  membangunnya,  yang  terpikir  dalam  dirinya  adalah  bagaimana  pekerjaan  tersebut  dapat  selesai  dengan  cepat tanpa  memperhatikan  kualitas  bangunan.  Disebabkan  pekerjaannya  yang tidak  maksimal dengan  mengesampingkan  teknik-teknik  pekerjaan,  akhirnya  tugasnya  pun selesai.  Telah  berdiri  sudah  sebuah  rumah  dalam  kategori  kurang  layak untuk  bangunan  yang  biasanya  digarap  oleh  perusahaan  tersebut  yang selalu  mengandalkan  kualitas  untuk  memuaskan  hati  customer.

Setelah bangunan tersebut jadi dan serah terima proyek telah diberikan sang bos perusahaan, terjadi  sebuah momen yang tidak pernah  dibayangkan  oleh  sang  tukang  kayu  sebelumnya.  Ternyata  ketika  pemilik perusahaan  itu  datang  melihat  rumah  yang  dimintanya,  ia  menyerahkan sebuah  kunci  rumah  pada  si  tukang  kayu  seraya  berkata,  “Ini  adalah rumahmu,  hadiah  dari  kami” , Betapa  terkejutnya  si  tukang  kayu.  la  merasa malu  dan  menyesal  disebabkan  ketidakkonsistenan  pekerjaan  yang  dia lakukan.  Sang  tukang  bekerja  dengan  asal-asalan  disebabkan  ia  berpikiran bahwa  itu  adalah  untuk  orang  lain,  bukan  untuk  dirinya.  Seandainya  saja ia  mengetahui  bahwa  ia  sesungguhnya  mengerjakan  rumah  untuk  dirinya sendiri,  ia  tentu  akan  mengerjakannya  dengan  cara  yang  lain  sama  sekali. Dan  pada  akhirnya  sang  tukang  kayu  tersebut  harus tinggal  di  rumah  hasil karya  terburuk  yang  pernah  ia  buat  dalam  hidupnya.

Begitulah  kehidupan  yang  dialami  oleh  manusia,  di  mana  banyak  orang yang terbawa  oleh  hasratnya  dengan  mengesampingkan  kata  hati  nurani mereka  dengan  menuruti  nafsu  dan  ego  mereka  sehingga  mereka  tidak konsisten  dalam  menjalani  usahanya  untuk  menggapai  kesuksesan.  Hal tersebut  juga  terjadi  pada  sebagian  wirausahawan  dalam  menjalankan roda  usahanya,  di  mana  banyak  orang yan gtidak  mampu  berbuat  konsisten dalam  menjalankan  usahanya.  Mereka  lebih  banyak  terbawa  dengan  ego dan  nafsu  duniawi  mereka  sehingga  usaha  yang  mereka  rintis  selama  ini kandas  di  tengah  jalan.

Kejadian  yang  dialami  oleh  tukang  kayu  tersebut  menggambarkan kepada  kita  bahwa  sikap  yang  tidak  konsisten  akan  berujung  pada penyesalan.  Tindakan  sang tukang  kayu  dengan  menjalankan  pekerjaannya dengan  asal-asalan  dan  dengan  setengah  hati  membuat  dirinya  menyesal dan  malu,  apalagi  setelah  ia  tahu  bahwa  rumah  hasil  karya  terakhirnya  diperuntukkan  untuk  dirinya.

Pada  akhirnya  ia  hanya  bisa  menyesali  perbuatannya  karena  ia  harus tinggal  untuk  menghabiskan  masa  tuanya  di  rumah  hasil  karya  terburuk yang  pernah  ia  buat.  Dalam  berkehidupan  kita  juga  akan  dihadapkan  dengan permasalahan  tersebut,  di  mana  kita  diuji  kekonsistenan  kita  dalam  hidup, terlebih  bagi  para  wirausahawan.  Kita  ibaratkan  rumah  tersebut  adalah impian  yang sedang  kita  bangun.  Setiap  hari  kita  memukul  paku,  memasang Papan,  mendirikan  dinding  dan  atap.  Mari  kita  selesaikan  rumah  kita dengan  sebaik-baiknya  seolah-olah  hanya  mengerjakannya  sekali  sajadalam  seumur  hidup.  Biarpun  kita  hanya  hidup  satu  hari,  maka  dalam  satu hari  itu  kita  pantas  untuk  hidup  penuh  keagungan  dan  kejayaan.

Apa  yang   diterangkan  lebih  jelas  lagi.  Hidup  kita  esok  adalah  akibat  sikap  dan pilihan  yang  kita  perbuat  hari  ini.  Kekonsistenan  dalam  menjalani  pekerjaan akan  berbuah  manis  bagi  pekerjaan  dan  kehidupan  pribadi  orang  yang  melakukannya.

Copyright: kisah-sukses.info

Filed in: INSPIRASI HIDUP, TIPS SUKSES