Monday, 18 December, 2017 | KUMPULAN KISAH ORANG SUKSES & TIPS SUKSES |

Kisah Sukses Sudi Artawan, dari Jualan Kelapa Sampai Menjadi Owner Monarch School & Hotel Training Centre


i-nyoman-sudiartawanNama Nyoman Sudi Artawan atau nama pangilannya Sudi sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Bali dan pelaut Bali pada umumnya , Putra ke tiga dari pasangan wayan Kenak dan Pak Ketut Merta  yang bermatapencaharian sebagai petani ,Cukuplah bangga mempunyai putra yang hanya mengeyam bangku SMA tapi mempunyai pengalaman kerja yang luar biasa .Dari Jualan kelapa, 5 Star hotel di Bali ( Niko,Rizt Calton,Four Season Resort  Bali,Kapal Pesiar Celebrity sebagai Bartender,Exporter,Directore Agent,Pemilik Sekolah dan banyak lagi sector lain yang menunggu beliau.

Awal Karier Sudi adalah diawali dengan Jualan kelapa di pasar Badung dengan almarhum pamannya sambil mengikuti kuliah D1 dan kursus bahasa inggris di Denpasar ,yang kesehariannya dari  tempa tinggal ke tempat kursus bahasa ingris naik angutan umum dan jalan kaki karena keadaan orang tua yang kurang mampu untuk membelikan sepeda motor. Tapi dengan kegigihannya yang pantang menyerah maka Sudi di terima di Koki Restourant di Nusa Dua sebagai bartender, disana beliau betul betul menderita karena Gaji yang diterima sangat kecil tapi dengan kecakapan berbahasa ingris beliau sering atar tamu tour keliling Bali sebagai Guide sehingga dapat uang tambahan , berkat kegigihan dan keuletan beliau di terima bekerja di Hotel Niko Bali dan baru berlangsung 1 tahun beliau pindah kerja kehotel Rizt Calton, disana beliau hanya bekerja 2.5 bulan karena mendapat panggilan bekerja di Hotel yang paling bagus pada waktu itu yaitu Four Season Resort Jimbaran sebagai bartender, Selama kurang lebih 2 tahun. beliau yang sangat menyukai hal hal baru dan memiliki ide ide yang cemerlang ,mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahan Kapal pesiar termewah di Dunia yaitu Celebrity cruise line sebagai Bartender.

Di perusahan Celebrity cruise line beliau dipercaya bekerja di Bar yang terfavorite yaitu Martini Bar ,Dengan dasar pengalaman di beberapa Hotel Berbintang di Bali maka tidaklah sulit buat beliau untuk berhadaptasi,malahan beliau dipercaya men-setup martini bar setiap kapal baru keluar dari Celebrity dan Penghargaan demi penghargaan dari kariawan terbaik 1 bulan,3 bulan sampai kariawan sebaik setahun di dapatnya.

Di Kontract kerja yang ke tiga tahun 2002 beliau sudah dipercaya untuk mericruite Bartender yang di salurkan ke celebrity cruise line , disalurkan melalui Agent yang dipercaya oleh company pada waktu itu.

Tahun 2008 beliau mencoba membuka kursus bar yang di beri nama FBC ( Flair Bartender Course)di Bali dengan alasan keluarga yang menuntut untuk tinggal di rumah,dengan dasar pengalaman yang di perolehnya untuk mendidik murid muridnya maka angkatan pertama sebanyak 11 orang semuanya di terima di perusahan kapal pesiar celebrity sebagai Martini Bartender , dengan nama dan reputasi yang baik di perusahan kapal pesiar celebrity maka banyak petinggi management mengenalnya sehingga memberanikan diri untuk mencoba membuka Agent di Bali, dengan kegigihan dan keuletan beliau maka Agent yang kelolanya sangat maju dengan pesat yaitu Pt.Ratu Oceania Raya Bali.

Dari latar belakang keluarga yang kurang mampu hanya mengandalkan kejujuran ,ide ide positife,bekerja keras dan kebersamaan ,beliau membuka lapangan pekerjaan seperti  Sekolah Perhotelan dan kapal pesiar yaitu Monarch Cruise line and hospitality training center ,Agent pengiriman tenaga kerja ke Kapal Pesiar ,Exporter, Agent perjalanan dan Akomodasi .

Ringkasan Pengalaman Kerja Nyoman Sudi Artawan  sampai saat ini :

  • Jualan Kelapa di Pasar Badung ,periode 1995-1996 , ( 8 bulan )
  • Freelance Tour Guide,Tahun 1996 ( 6 bulan )
  • Koki Loka Restourant Nusa Dua as Bartender and Waiter, periode 1996-1997 ( 8 bulan )
  • Nikko Bali Resort & Spa, As Bartender periode 1997 -1998 ( satu tahun )
  • Ritz Carlton Hotel as Bartender Tahun 1998 ( 2 .5 bulan )
  • Four Season Resort Bali As Bartender Periode 1998 -1999 ( 2 tahun )
  • Celebrity Cruise Line as Bartender and Trainer  ( 1999-2008) ( 9 tahun )
  • Exporter 2006 – 2007 ( TEMPLE OF THE WORLD) (2 tahun )
  • OWNER OF BTO ( BALI TOUR OPERATIONAL ) 2005-SEKARANG.
  • Directur of PT.Ratu Oceania Raya Bali,Agustus 8,2008 until present,
  • Salah satu Owner  of Monarch School and Hotel Training Centre.

Motto hidup dari beliau “ Orang dibilang success bila telah membuat orang disekitarnya success”  “Orang dibilang kaya bila telah membuat orang disekitarnya kaya “

Biografi Nyoman Sudi Artawan

I Nyoman Sudi Artawan adalah putra ketiga pasangan Ketut Merta dan Wayan Kenak dari Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Beliau lahir pada tanggal 1 Desember 1975 di Desa Mungil Pelapuan. Beliau memiliki dua kakak perempuan yang  meninggal pada masa kanak- kanak karena pada saat itu orang tua tidak memahami terlalu banyak tentang kesehatan, sehingga kedua kakak beliau yang saat itu berusia 2 dan 4 tahun meninggal di minggu yang bersamaan. Ini merupakan hal yang sangat menyakitkan untuk orang tuanya yang kedua putrinya meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan karena sakit mendadak. Karena kejadian ini, setelah beliau lahir, orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Desa Bongancina. Orang tua beliau tinggal di gubuk dan saat itu mereka bisa membeli tanah seluas 1 hektar (1000 Are)dengan cara mengangsur di Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu. Pada waktu itu, rumah tersebut dibangun dengan setengah tebok yang terbuat dari batako dan  setengahnya lagi terbuat dari kayu. Saat musim dingin tiba, angin masuk ke kamar dan semua keluarga kedinginan dan terlebih lagi 50% tanah tersebut merupakan tanah tandus dan  50% sisanya berisi tanaman kopi dan cengkeh. Dalam kondisi demikian,  orang tua beliau harus bekerja harian di rumah tetangga untuk bertahan hidup. Beliau dan adiknya (Ketut Pariasa), sering ditinggal bekerja ke tetangga dengan hanya disediakan nasi yang dicampur dengan ketela atau pisang.

Sudi-Artawan-1Setelah beliau menginjak bangku SD (Sekolah Dasar), orang tuanya membelikan kambing agar beliau bisa belajar beternak. Inilah kegiatan mereka di Desa Bongancina untuk membantu orang tua menyekolahkan beliau dan adik- adiknya dengan jalan beternak dan bertani.

Karena lingkungan desa yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang berkasta, beliau dan adiknya pun merasa minder untuk bergaul atau mencari teman di desa. Hal ini  karena beliau dan adiknya takut salah dalam berbicara.

Menginjak kelas 3 SD, beliau baru bisa membaca dan menulis. Saat itu, buku yang tersedia sangat terbatas dan fasilitas yang kurang memadai untuk belajar, seperti fasilitas penerangan pada  malam hari saat belajar hanya ditemani dengan lampu tempel.  Beliau harus rela merasakan kelelahan setiap datang dari sekolah karena berjalan kurang lebih 4 km dari sekolah menuju rumah. Setamatnya dari sekolah dasar, beliau tak bisa diterima di sekolah negeri karena nilai yang kurang. Akhirnya, beliau melanjutkan sekolah di SMP PGRI 3 Kemoning. Sehari-hari, untuk menuju sekolah beliau menempuhnya dengan   80% berjalan kaki dan 20% diantar menggunakan sepeda motor (saat itu RX 100) oleh bapaknya.

Sudi-Artawan-3Untuk  biaya sekolah,  beliau kerap membantu ibunya berjualan makanan kecil keliling desa dengan berjalan kaki. Dengan kegigihannya untuk mengubah tatanan hidup keluarga, beliau melanjutkan sekolah  ke SMA Negeri 2 Singaraja yang pada saat itu adalah salah satu sekolah unggulan di Singaraja. Saat menduduki bangku SMA itu, beliau tinggal bersama kakak sepupunya (Pak Kartu) yang saat itu berprofesi sebagi guru senior di SMA terkemuka. Begitu pula dengan istrinya yang juga berprofesi sebagai guru Ekonomi di salah satu SMA di Singaraja. Tinggal bersama lingkungan keluarga guru, membuat beliau ikut terpengaruh untuk membaca dan terus membaca.

(Lingkungan Sangat Memengaruhi Sifat dan Perilaku Manusia.)
Saat menduduki bangku SMA, beliau menempati kelas 1.2 yang notabene merupakan kelas unggulan di SMA Negeri 2  Singaraja pada saat itu. Karena persaingan yang begitu ketat, beliau hampir tidak naik kelas di tahun pertama. Akan tetapi, di kelas 2 (tahun ke-2), beliau memilih jurusan sosial atau SOS. Sejak saat itu, beliau selalu menjadi juara kelas (juara 1 atau juara 2) sampai kelas 3.

Pada saat itu, beliau juga menekuni bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Salah satu cara beliau melatih keterampilan berbahasa adalah ketika beliau pulang kampung ke Desa Bongancina. Karena tidak memiliki sepeda motor, setiap pulang kampung beliau selalu naik angutan bus (saat itu disebut Bus Manis) jurusan Denpasar –Singaraja. Begitu pula sekembalinya. Beliau selalu duduk di barisan depan dan beruntung jika ada tamu (turis) yang ikut menumpang, beliau akan pindah duduk di dekat tamu tersebut. Ketika itulah, beliau memberanikan diri untuk bertanya, mengobrol dengan turis tersebut, dan melatih bahasa Ingris dan bahasa Jepangnya.

Saat duduk di bangku kelas 3 SMA (tahun ke-3), beliau menyempatkan diri untuk kursus bahasa Inggris di Manggala English Course. Sejak itulah,  beliau terus berlatih dan semakin menyukai bahasa Inggris.

(Belajar tidak mengenal Status, Ekonomi, Kasta dan Umur. Jadi, Belajar/Membaca adalah sumber keberhasilan.)

Sudi-Artawan-4Karena orang tua yang tidak bisa membiayai  beliau untuk melanjutkan ke Universitas, saat itu beliau akhirnya hanya bisa  menuntut ilmu melalui kursus bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus yang bertempat di Denpasar  (ILC Anugrah). Sambil kursus, hampir setiap malam beliau berjualan kelapa  di Pasar Badung untuk membayar biaya kursus dan Diploma 1 BLKP. Beliau tetap dibantu oleh kedua orang tua terutama Ibunya yang saat itu bekerja sebagi seorang pedagang dan pengrajin sangkar burung. Bagi beliau, ibunya  seorang ibu rumah tangga sekaligus pemberi inspirasi dalam berkarya dan berbisnis. Ketika itu, beliau tinggal di rumah pamannya yang pada saat itu masih tinggal di sebuah kontrakan di Jalan Kemuda No.46 Tonja Denpasar. Profesi almarhum pamannya adalah sebagai  penjual kelapa di Pasar Badung. Karena itulah, beliau pun membantu pamannya untuk berjualan di pasar hampir setiap hari sejak pukul  1.00 dini hari hingga 7.30 pagi.

Selama menjalani kursus bahasa Ingris di ILC Anugrah Diponogoro Denpasar , beliau selalu berjalan kaki sampai di simpang Jalan Nangka, kemudian naik angkutan  bemo. Itulah yang beliau lakukan kurang lebih selama  8 bulan. Hingga akhirnya, orang tua beliau bisa membelikan sepeda motor Vespa yang kemudian beliau gunakan  untuk mempraktikkan kecakapan bahasa Ingrisnya di kawasan pariwisata Denpasar, seperti di Museum Bali dan Art Centre.

Sudi-Artawan-5Mengawali kariernya, beliau  menjadi saleman untuk mencari nasabah  ERERA Card Group, yang saat itu adalah sebuah perusahan multilevel marketing yang setiap hari mengharuskan beliau untuk terus berkeliling ke rumah-rumah penduduk. Dengan  mengendarai Vespa, pekerjaan ini dilakoni kurang lebih dua bulan dan tentunya sambil kursus bahasa Inggris dan kuliah singkat di BLKP jurusan Bartender. Pekerjaan ini beliau emban karena keadaan terpaksa untuk mendapatkan uang guna membantu beban orang tuanya yang saat itu masih menanggung  dua adiknya yang masih duduk di bangku  Sekolah Menengah Atas (SMA) dan  Sekolah Dasar (SD).

Karena ingin lebih cepat mendapatkan pekerjaan agar bisa membantu orang tuanya, maka beliau pindah  dari paman ke tempat kontrakan teman sekampungnya   (Dewa Sudi dan istrinya Ibu Dian). Di sanalah beliau membantu temannya menjadi tukang masak, mencuci, dan sebagainya alias menjadi pembantu. Selama tinggal di sana, beliau diizinkan untuk tidak bayar apapun meskipun  tidur di luar (beranda) beralaskan karpet biru. Kadang hujan dan rasa dingin mencekam dirasakannya karena tidur di luar dengan berbantal kamus bahasa Ingris. Ya.  Karena tekad  belajar  yang tak pernah pudar, kemana pun beliau selalu membawa buku.

Beliau tinggal bersama Pak Dewa Sudi kurang lebih selama 1,5 bulan. Berkat Pak Dewa Sudi juga beliau memilih jurusan ‘Bartender’ yang sebenarnya bertentangan dengan cita – citanya, yaitu ingin menjadi ‘Guide’ .

(Manusia  tidak bisa menentukan jalan hidupnya. Hanya Tuhan yang bisa menentukan. Kita patut Belajar, berkarya dan berkarya sehingga sukses menanti kita.)

Sudi-Artawan-6Selang waktu berjalan, beliau bertemu  dengan  Mr.Martinus yang sangat baik mencarikan beliau  pekerjaan di sebuah restaurant di Nusa Dua, yaitu Koki Restaurant. Di sanalah beliau menjadi seorang Bartender.

Saat itu, beliau tinggal di sebuah kamar kost bersama temannya yang berasal dari Sanur, yaitu Nyoman Mahendra. Mereka tinggal sekamar berdua di sebuah kamar kecil dengan kamar mandi luar. Harga kost pada saat itu, Rp 75.000,-/bulan.  Gaji beliau  di awal  Rp 120.000,-/bulan ditambah uang makan Rp 15.000,-/hari. Kira-kira dari tangal 1 sampai tanggal 10, beliau masih bisa membeli nasi dengan harga Rp 1000,- yang saat itu lauk nasinya sudah termasuk sangat enak dan porsinya pun banyak. Akan tetapi, setelah tanggal itu, tanggal 10 hingga akhir bulan, beliau harus membeli nasi dengan harga Rp 500,- / seharga nasi jingo saat itu. Beliau sangat merasakan kekurangan dengan penghasilan saat itu, sehingga beliau memilih mencari pekerjaan sampingan yaitu menjadi guide liar/unofficial guide. Pekerjaan sampingannya itu dilakukannya pada saat mendapatkan libur dari tempat kerja. Tentunya, saat itu beliau masih terus melanjutkan kursus bahasa Inggris di tempat favoritnya sampai  ke tingkat guiding.

Sudi-Artawan-7Karena sering kehabisan uang, sebelum tanggal muda beliau sering meminta nasi di restaurant dan kepada tuan rumahnya. Hingga suatu hari, beliau menahan rasa lapar yang benar-benar tak tertahankan sampai beliau pingsan karena maag berkepanjangan yang dideritanya. Saat sadar, beliau sudah ada di klinik Nusa Dua. Hampir saja beliau merasa putus asa dan ingin memutuskan untuk pulang ke desa karena merasakan keaadaannya yang sangat kritis. Akan tetapi, karena dorongan dan nasihat dari tuan rumahnya,  beliau pun akhirnya mencoba bertahan.

(Rasa pantang menyerah untuk masa depan yang lebih baik harus kita miliki dan berkarya sampai mendapatkan hasil yang diinginkan, itulah Sukses yang sejati.)

Surat lamaran pekerjaan ke hotel-hotel atau restaurant untuk mendapatkan gaji yang lebih baik sudah diajukannya, tetapi kerap mendapatkan penolakan. Salah satunya,  beliau pernah mengajukan lamaran di Hotel Nikko kurang lebih sebanyak empat kali, tetapi tak ada panggilan.
Beliau sempat berpikir mungkin penolakan ini karena beliau tidak memiliki ijasah perhotelan dan  pengalaman kerja yang kurang. Dan yang lebih menyedihkan saat itu adalah ketika hampir sebagian temannya yang  bekerja di Koki Restaurant (saat itu Komang Semol, Komang Mahendra, dan Wayan) sudah  bekerja di Radison Hotel Sanur yang notabene tempat yang bagus pada saat itu. Dengan demikian, otomatis temannya pindah kost, sehingga beliau pun kehilangan teman kost dan mau tidak mau harus membayar sewa kost sendirian. Maka, beliau terus berusaha dan berusaha untuk pindah kerja ke tempat yang lebih bagus .

Sudi-Artawan-8Akhirnya, berkat jalan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, juga karena rajin sembahyang dan karena ketekunannya, maka diterimalah  beliau di salah satu hotel berbintang 5 terfavorit pada saat itu, yaitu Hotel Nikko Bali di Nusa Dua-Bali sebagai bartender. Saat itu beliau dibantu oleh staf marketing Hotel Nikko  Ms.Lenny Leo hingga diterima di Hotel Nikko Bali. Di Hotel Nikko Bali, beliau bekerja sebagai bartender, meskipun sebenarnya beliau tidak memiliki pengalaman trainning atau pengalaman bekerja sebelumnya,  sehingga beliau kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena beliau tidak bisa membuat minuman campuran. Bahkan,  peralatan di bar pun kurang dihafalnya. Contohnya saja, beliau tidak bisa menggunakan blender karena pada saat itu menurut beliau blender di hotel berbintang 5 bentuknya berbeda dibandingkan restaurant tempatnya bekerja dahulu. Kadang beliau juga takut menjawab telepon karena kurang percaya diri. Jika telepon bordering, beliau  berpura- pura saja menyibukkan diri.

Untuk mengejar kekurangan dibandingkan teman kerjanya, beliau selalu datang lebih awal ke tempat kerja untuk belajar bekerja. Seharusnya, beliau mulai bekerja jam 1 siang, tetapi  beliau sudah berada di hotel jam 10 pagi. Pernah juga beliau pingsan dan akhirnya digotong menggunakan  troli pada saat meng-handle banquet karena memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai tuntas. Dengan bantuan dan dukungan dari teman-teman kerja yang baik hati, bisa dikatakan saat itu beliau merasa memiliki tim kerja yang luar biasa yang saat itu dipimpin oleh Pak Dewa Mahayadnya yang juga berasal dari Singaraja. Pak Dewa yang benar-benar memberikan motivasi dan inspirasi figur kepemimpinannya serta dibantu oleh Pak Jaka ,Yasa, Suarta, dan teman lainya yang luar biasa seperti Arya Darma,Ngurah Depil, Ngurah Wirajaya, Untung, Giri, Rendra, Ngurah Udayana, Sugik, Bawa, Puri dan banyak lagi teman yang mendukungnya.

(Suatu organisasi akan maju bila team work dan pemimpin yang mempunyai dedikasi sama dengan organisasinya dan bawahannya.)

Akhirnya, beliau lulus masa percobaan dan menjadi karyawan tetap. Karena saat itu beliau mendapatkan gaji sebesar  Rp.500.000 yang  bisa dikatakan cukup lumayan dibandingkan bekerja di restaurant, maka beliau memutuskan untuk menyicil (kredit) sepeda motor Kaze baru.

Kurang lebih sudah satu tahun beliau tidak pernah pulang kampung untuk sekadar menengok orang tua dan adik-adiknya. Memang keadaan yang membuatnya terpaksa tidak bisa pulang. Sampai-sampai, karena kerinduan dan kekhawatiran  yang teramat dari sang ibu kepada beliau, ibunya  menanyakan keberadaan beliau ke ‘orang suci’. Tidak disangka, ‘orang suci’ tersebut mengatakan bahwa beliau telah dilarikan dan dibawa ke Jawa oleh seorang  gadis.

Beruntung,  ibunya adalah sososk penyabar. Ibunya terus berdoa untuk keselamatan beliau anaknya. Hingga suatu hari, beliau akhirnya berkesempatan untuk pulang ke kampong halaman. Dengan bangga dan perasaan terharu, beliau pulang dengan mengendarai sepeda motor kaze baru dari hasil jerih payahnya sendiri.

Suatu kesuksesan yang diraih dengan perjuangan keras dan usaha sendiri akan bertahan lama dan akan sangat mulia.
Selama bekerja di Hotel Nikko, beliau menyempatkan diri untuk melanjutkan kursus bahasa Jepang di Jalan Sari Gading Denpasar. Kursus tersebut dijalaninya selama kurang lebih lima bulan, dan selama itu pula  tiga kali dalam seminggu beliau bolak balik dari Desa Bualu Nusa Dua menuju  Denpasar.

Sudi-Artawan-9Setelah kurang lebih satu tahun beliau bekerja di Hotel Nikko, beliau  diterima di Hotel Ritz Calton Bali. Akan tetapi hal tersebut tidak bertahan lama karena beliau mendapatkan panggilan dari salah satu hotel terkenal pada saat itu, yaitu Hotel Four Season Resort Bali sebagai Bartender.

Akhirnya, beliau memutuskan bekerja di Four Season Resort Bali  dengan  gaji yang bisa dikatakan gaji terbesar untuk karyawan hotel dibanding dengan hotel-hotel lainya pada saat itu. Dengan gaji yang demikian memuaskan bagi beliau, beliau bisa membantu orang tua untuk memperbaiki rumah orang tuanya di Desa Bongancina.

Beliau mendapatkan pelajaran berharga serta training  hospitality yang sangat bermanfaat bagi kariernya ke depan selama bekerja di Hotel Four Season Jimbaran Bali .

Memang pada dasarnya, beliau adalah sosok yang menyukai tantangan dan senang mencoba hal-hal  baru. Karena itulah, beliau akhirnya mencoba melamar di perusahaan kapal pesiar karena  terinpirasi oleh menantu tuan rumahnya saat tinggal di Nusa Dua  (Ketut Manis namanya). Ketut Manis  menyarankan beliau untuk berangkat ke kapal pesiar. Saat itu, Ketut Manis telah memberikan bukti. Setiap liburan, Ketut Manis  bisa membeli mobil baru, membeli tanah, dan membantu keluarga. Melihat itu semua, akhirnya beliau memutuskan untuk mengajukan surat lamaran ke beberapa recruiting agency, beberapa di antaranya adalah CTI, Panatra Damas, dan HCTI pada saat itu. Dengan berbekal pengalaman bekerja di hotel bintang 5, seperti Hotel Nikko, Rizt Caltton, dan Four Season, beliau pun  diterima di semua agen yang diajukannya. Beliau lulus di perusahan kapal NCL, Disney, Appolo, dan MSC. Akhirnya, pada tanggal 1 Desember 1999, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-24, beliau meninggalkan Bali bersama temannya, yakni Nyoman Dauh dari Karangasem untuk bergabung ke Kapal Celebrity Zenit milik Apollo pada saat itu.  Bagi beliau, ini bagaikan hadiah ulang tahun 24 yang tidak ternilai harganya.

Dua bulan pertama bekerja di atas kapal pesiar, beliau merasa kewalahan dengan pekerja dan situasi yang baru. Beliau sempat merasa tidak kuat untuk menyelesaikan kontrak selama 8 bulan di posisi bartender yang telah disepakatinya.

Meskipun beliau memiliki latar belakang  adalah orang yang suka bekerja keras, rupanya ada yang membuatnya merasa diri tidak mampu yaitu Sedikitnya orang Bali atau Indonesia yang bekerja di kapal Zenith pada saat itu, membuat komunikasi  bahasa Inggris yang beliau kuasai belum cukup untuk menembus pasaran internasional. Beruntung, beliau mendapatkan dorongan keras dari bar manager, seorang berkebangsaan Turki  Mr.  Yelmas, Mr. Fermin asal Dominica Republik, dan Pak Gusti Lanang Rai seniornya. Berkat dukungan mereka,  beliau pun bangkit kembali.

Dalam bisnis pariwisata, sangat dibutuhkan kecakapan berbahasa asing, keperibadian yang baik, dan keberanian bukan “gelar”

Sudi-Artawan-10Akhirnya, tiga bulan terakhir saat beliau bekerja, beliau dinobatkan menjadi karyawan terbaik dalam kurun waktu satu bulan dan langsung mendapat kepercayaan dari Miami office/company untuk membuka/ men set-up kapal baru berfasilitas gas turbin yang pada saat itu memang sangat dinantikan oleh semua tamu yang ingin berlayar.

Beliau dikirim ke San Naser (Labule) Prancis untuk menset-up Martini Bar, yaitu sebuah bar yang sangat diminati oleh para tamu dan tentunya merupakan bar terfavorit. Akan tetapi, rupanya kapal Millenium penyelesaiannya tidak sesuai dengan jadwal. Disanalah beliau mendapatkan  training hospitality dan bar oleh Mr Luis Ortega yang saat itu menjabat sebagai cooperate bar manager, sedangkan bar manager pada saat itu dijabat oleh Mr Jurgen Blesing, serta asst. bar manager yang diduduki oleh Mr.Koncok Tresing dari India dan Mr Sergio dari Portugal. Dari mereka, beliau mendapatkan begitu banyak ilmu tentang bar dan hospitality. Di antara 30 bar candidate yang ada pada saat itu, hanya beliau kandidat yang  berasal dari  Indonesia.

Setelah berasil menset-up Martini Bar di Millenium Ship, beliau dipercaya untuk membuka kapal Class Millennium lainnya, seperti  Infinity, Submit, Constelation, dan Century .

Sejak beliau bergabung  tahun 1999-2008, penghargaan demi penghargaan beliau peroleh di perusahan kapal pesiar Celebrity.  Mulai dari penghargaan sebagai karyawan terbaik selama satu bulan, karyawan terbaik selama tiga bulan, hingga sebagai karyawan terbaik selama satu tahun (Employee of the Year 2004).

Beliau  juga sempat merintis bisnis exporter furniture bersama tamu dari Canada yaitu Mr. Allan Leo ,

Selain itu, beliau pun merintis segala jenis bisnis, seperti menjual tanaman hias, exporter, dan agent tour (BTO) Bali Tour Operational, www.balitouroperational.com. Akan tetapi, semua itu belum berjalan dengan lancar  karena modal yang sangat tipis.
Akhirnya, beliau kembali berangkat ke kapal pesiar dan menyelesaikan kontrak selama 6 bulan. Setelah itu,  beliau melanjutkan bisnis exporter bersama Mr .Allan Yeo.  Saat itu, beliau merasakan keuntungan yang sangat besar, sehingga beliau pun bisa membangun rumah kost  di daerah Renon.

Akhirnya, pada  bulan Maret  2008, beliau di panggil kembali ke Miami office untuk menset-up bar di Solstice kapal baru milik Celebrity. Di sana, beliau bertemu  dengan para petinggi/ management dari Celebrity dan RCCL, seperti Mr.Louis Ortega, Mrs.Ana Calava, Mr.Ivan, Mr. Ravi, Mr.Danarahan, dan masih banyak lagi petinggi lainnya .

Sudi-Artawan-11Beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beliau langsung saja membicarakan perihal rencananya untuk membuka sekolah bar di Bali. Setelah didukung penuh oleh Mr.Luis Ortega, beliau dipertemukan dengan recruting manager RCCL  Ms. Anna Calava. Kemudian, beliau diwawancarai  oleh Mr. Adam,  Ms.Lyset, dan Ms.Anna Calava sendiri. Memang nasib beruntung berpihak pada beliau. Beliau ditawari untuk membantu Mr.Deddy dan Mr.Sean  membuka agen di Indonesia. Tak beberapa lama, beliau mendapatkan surat penunjukan dari Mrs.Anna untuk membuka agen di Bali .

Beliau tiba di Bali membawa misi membuka pelatihan Bartender pada Mei 2008. Beliau menamai tempat pelatihan bartendernya dengan nama FBC (Flair Bartender Course) yang berlokasi di Jalan Beringin No 56, Br. Pegending, Dalung-Kuta Utara yang notabene merupakan rumah mertuanya sendiri.  Murid angkatan pertama pada saat itu sebanyak 13 orang. Dengan dibantu oleh Pak Tut Atmaja, 95 % anak asuhnya di terima di perusahan Celebrity Cruise dengan prestasi yang sangat gemilang dan bisa bekerja di Martini bar yang saat itu masih merupakan bar terfavorit.

Dengan menindaklanjuti pembahasan tentang kantor cabang agen (Ratu Oceania Raya Bali saat ini), beliau pun bolak balik dari Bali ke kantor pusat di Jakarta. Di sana, beliau bertemu dengan Mr. Sean Carwithen, Deddy Herfiandi, Toni, Akmal , Dani, dan Opening Staff Ratu Jakarta lainnya. Kemudian, beliau pindah ke Renon bergabung dengan PT. Indonaker karena  izin perekrutan yang belum jelas di Dalung pada saat itu.

Sudi-Artawan-12Tahun 2008-2009 adalah tahun yang benar – benar penuh perjuangan bagi beliau dalam kariernya. Akhirnya, beliau kembali ke Dalung. Sejak mulai dirintisnya  Agent PT.Ratu Oceania Raya Bali pada tahun 2008 sampai  Agustus 2009, beliau bekerja tanpa digaji dan juga dengan pengeluaran modal yang begitu lumayan banyak.

Semua usaha dilakukannya untuk menset-up agen. Beliau juga merasa beruntung medapatkan dukungan penuh dari Ibu Llik yang tak lain adalah istri tercintanya. Istri beliau adalah seorang accounting tamatan salah satu univesitas negeri di Denpasar. Rumah istrinya itulah yang kini diberdayakan sebagai  kantor tanpa sewa selama kurang lebih satu tahun. Beruntung pula,  mertua beliau yang saat itu masih berprofesi sebagai guru dan memiliki usaha ternak babi dan ayam, memberikan dukungan penuh. Akhirnya, kini mertua beliau berhenti berternak karena areal ternak digunakan  sebagai perkantoran.

Bersamaan pada Agustus  2009,  Mr. Sean Carwithen datang ke Bali. Dengan kedatangan beliau, PT.Ratu Oceania Raya Bali pun bisa berkembang pesat, sehingga saat itu dan staff PT.Ratu Oceania Raya Bali pun bertambah (Rai, Komang Arjana, Putu Welly, Dewa Sukrana , Anik dan Pak Adi).

Pada bulan Mei, tepatnya 24 Mei 2010, beliau mendapatkan hadiah seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Honesty Githa Artawan. Sebuah nama yang bagi beliau merupakan sebuah landasan dasar dalam  berbisnis, yang dalam bahasa Indonesia berarti “kejujuran”.

Hingga kini (tahun 2013), PT. Ratu Oceania Raya Bali menangani tujuh perusahan kapal pesiar, seperti RCCL, CELEBRITY, AZAMARA, PULLMANTUR, REGENT, OCEANIA, dan DISNEY CRUISE LINE. Dengan sistem dan prinsip  bisnis yang beliau kembangkan yakni kejujuran, kebersamaan, dan ide – ide positif yang membangun, maka dengan pesatnya berkembanglah Sekolah Monarch yang kini  telah memiliki lima cabang di kabupaten-kabupaten yang berrada di Bali, yakni  Monarch Dalung/Badung, Singaraja, Gianyar, Karangasem, dan Negara. (silakan kunjungi www.monarchbali.com),Dengan berdirinya Sekolah Monarch akan sangat membantu program pemerintah dalam hal Pendidikan dan mengurangi penganguran karena Lulusan Monarch telah terbukti disalurkan melalui Agen PT.Ratu Oceaniaraya Bali .

Dengan kesibukan yang padat sebagai Pemimpin Agen dan sebagai salah satu pemilik sekolah pariwisata di Bali, yaitu Monarch, beliau masih dengan semangatnya menyisihkan waktu untuk menuntut ilmu di salah satu universitas swasta di Denpasar, Jurusan Sastra Inggris.

Beliau sangat mengharapkan generasi Indonesia  khususnya Bali, agar tidak berhenti membiasakan diri untuk terus membaca, belajar, dan selalu memiliki keinginan untuk maju agar mampu memperbaiki tatanan hidup keluarga masing masing, sehinga negara ini yang mempunyai masyarakat dengan ekonomi yang merata. Dengan demikian,  negara ini akan menjadi negara sejahtera. Karena, Bangsa yang sejahtera dimulai dari keluarga sejahtera.

Filed in: INSPIRASI HIDUP, KISAH ORANG SUKSES